 | selamat datang! mari berkejap bersama... | May 12, 2006 |
silakan duduk dan berkejap. sekejap saja, menikmati saya dan dunia dari mata saya...

Ini mungkin akan jadi tulisan paling membosankan yang dari judulnya saja sudah ingin kau lewati halamannya. Aku ingin sedikit bercerita tentangku dan agamaku.
Aku, Islam. Sungguhnya ini nasib. Seperti aku tak bisa memilih bapak-ibu, hari dilahirkan, atau juga jenis kelamin. Semua sudah ditulis di buku nasib tanpa minta persetujuanku, paket konsekuensi jangka panjang, seumur hidup. Tapi yang kita punya adalah prasangka baik pada yang Maha Perencana.
Lalu, aku menjalani agamaku, dengan caraku yang pribadi. Berusaha memisahkan yang agama dan yang budaya. Aku percaya Islam bukan Arab dan sebaliknya, Arab bukan Islam. Berusaha berhati pluralis, walau kadang standar ganda, berusaha menghargai perbedaan, walau kadang lebih nyaman dengan persamaan.
Lalu tentang menghaki kepemilikan surga. Adu argumen, adu dalil seolah lebih benar dari yang lain, lebih pantas dari yang lain. Tapi aku percaya satu hal saja, surga berpintu banyak, ratusan bahkan ribuan. Mata uangnya sederhana, perbuatan baik. Itu saja. Seandainyapun surga dan neraka itu tak pernah ada, aku tidak akan berhenti berbuat baik. Tidak menyesal berbuat baik. Percaya berbuat baik karena ingin berbuat baik. Karena berbuat baik itu lebih pas dengan nurani. Berbuat jahat itu membuat gugup, dada berdegup, ingin meletup.
Membicarakan agama itu sungguhlah kompleks kalau kita bicara bungkus, lapisan atas saja. Saat duduk bersama dengan yang satu agama, kadang awalnya kau merasa aman, tapi seringkali terancam karena diam-diam ada kompetisi siapa lebih beriman dari yang lain. Lalu saat ada yang kau tahu lebih "tinggi ilmu" kamu jadi minder dan memilih menyingkir. Saat duduk bersama dengan yang berbeda agama, kau seringnya merasa terancam, seolah-olah duduk bersama ini akan menyeberangkanmu ke agama mereka. Syakwasangka. Prasangka buruk. Lalu saat berani-berani membanding-bandingkan akidah, ujungnya silat lidah. Bodohnya sebodoh membandingkan jerapah dengan gajah. Harusnya membicarakan tentang esensi, tentang intisari, tentang dasar nilai-nilai baik. Maka kita akan saling tersenyum, dan berjabat tangan dari hati ke hati.
Lalu tentang Tuhan yang dilabeli Allah, Hyang Widi, Yahweh, apalah. Menurutku satu saja dengan banyak alias. Pengatur hidup-mati, suka-senang, gelap-terang, benar-salah, puncak dikotomi dan dualisme. Ingin rasanya mengunjungi Tuhan-Tuhan yang dipanggil dengan nama-nama berbeda di rumah masing-masing. Mungkin gereja, mungkin pura, mungkin vihara, mungkin sinagog. Beribu wajah Tuhan, semoga diijinkan.
Dan aku akan tetap jadi aku. Aku dan agamaku. Kika dan Islamnya.
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;) Yang ini sungguh ada film mininya!
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan 19 Maret 2011! Flash fiction dan film mini! ;)
Nantikan! 19 Maret. 100 flash fiction dan 9 film pendek! ;)
Nantikan! 19 Maret. 100 flash fiction dan 9 film pendek! ;) Yang ini sungguhan ada film pendek-nya! Gaya stop motion dan tipografi gt. Semoga suka! :)
Saya akan membagi beberapa cerita fiksi. Pendek, tak lebih dr 250 kata. Konsepnya bercerita, 1 halaman saja. Ini bagian dari proyek menulis bersama beberapa teman, semoga suka! :) Cerita-ceritanya saya tarik sementara, karena akan jadi project buku bersama salah satu penerbit nasional. Insyaallah diluncurkan sekitar Maret 2011 dengan kompilasi film pendek yang terinspirasi atau diambil dari cerita-ceritanya.
Hai teman-teman, Sejak bencana hancurnya koleksi yang paling berharga untuk hidup saya oleh sekawanan rayap liar di kamar lama, saya berjanji akan mengganti semua kata-kata yang raib-musnah itu dengan banyak menulis. Seperti mata dibalas mata di hukum Hamurabi, maka kata-kata dibalas kata-kata. Well, belum di tempat ini, tapi saya merintis banyak cerita pendek di notepad BB saya. Ini bagian dari sebuah proyek menulis fiksimaksi (cerita 1 halaman) dari teman-teman fiksimini (cerita maksimal 120 karakter di twitter, coba cek timeline @fiksimini). Insyaallah nanti bisa jadi buku setelah selesai 180 judul (masing-masing berkontribusi 30 cerita). Beberapa cerita saya ikutkan "perjudian" menulis di Kilat-flash fiction di Ubud Writers Festival. Silakan mampir untuk membaca beberapa, dan derma jempol kalau suka (memang agak repot karena harus dilakukan lewat PC, mogok di-jempol lewat BB). Ceritanya, top 12 dari kompetisi ini akan dinilai tim juri dan diterbitkan di activity-zine khusus (semacam buletin) dan diundang hadir ke acara ini. Yah, ini cara saya merayakan hidup saya. Mungkin cara teman-teman merayakan hidup dengan menikmati tulisan-tulisan! :) Selamat menikmati hidup! *ketjup di embun-embun*
-kikadhersyputri-
(Mari begajulan di twitter, saya pakai @theonlykika)
seperti cuci baju dengan mesin cuci. lalu kamu bilas. lalu kamu buang airnya.
maka seperti itu juga dengan situs menulis ini.
kenapa otak saya rasanya mengering dan tak hendak menulis ya?
(tulisan 140 karakter itu ibarat sprint, mulai membunuh kreatifitas menulis marathon saya) *keluh*
Main Tuhan. Tunjuk dosa. Tuduh kafir. Sok kuasa. Sungguhnya agamamu tak perlu dibela dgn cara barbar dan kaumnya tak sudi diatasnamai.
Memories and photos are desperate attempt to steal something from death's suitcase.
And I miss them. (Those who were leaving earlier) Badly.
(Inspired by tuesdays with morrie, why this book haunting me during the death and the funeral?)
Kamu datang. Mungkin lewat jendela. Diam-diam. Seperti pencuri. Lagi-lagi.
Uti saya meninggal. Rabu minggu lalu. Dua kematian beruntun belum lagi 100 hari. Rupanya Tuhan mau high rotation di hidup saya, dan mama saya lebih-lebih : suaminya lalu ibunya.
Sedih yang proporsional saya menjulukinya. Sedikit permisif pada pencabut nyawa kali ini. Dia sudah sepuh. Seperti sudah waktunya, walau tak pernah ada waktu ideal yang pas. Hari yang padat, hari terakhir kerja hingga sedihpun hampir lupa.
Di kereta, baru semua serbuan rasa itu datang. Airmata. Sendu yang mengerikiti hatimu. Sedih yang merambat dari ujung kaki. Dingin yang selimut tidak mengurangi rasanya.
Dan ini yang saya ingat dari uti saya : 1. Pertanyaan repetitif yang selalu saya variasikan jawabannya dari hari ke hari Situasi : pulang dini hari "Nduk, opo nang dalan ono uwong jam semene iki?" Jawaban variasi 1 : "Wah! Gila rame banget mbah! Orang-orang kan pada bergaul!" Jawaban variasi 2 : "Ya ampuuun! Sepiii banget! Orang-orang pada kemana ya?" 2. Vetsin yang "generous" di semua hidangan. No comment. Otak saya masih baik-baik saja. Agak bodoh sedikit mungkin. 3. Upaya total supaya saya ga bosen masakan rumah. Sampai-sampai masakan rumah ditaruh kotak dus berkatan dan menyusun skenario seolah-olah kiriman tetangga karena melihat saya lebih semangat makan masakan orang. 4. Nyaris diusir dari rumah dan kenyataan hidup bahwa makanan expired lebih berharga dari saya. Saya hobi diam-diam membuangi bahan makanan expired dari kulkas sebaliknya dia hobi banget nyimpen barang. Dengan kerjasama terpadu asisten rumah tangga sebagai pengalih perhatian saya sukses menjalankan misi. Sampai satu hari saya apes, dia ngambek. "Aku ora seneng nek kowe ngguwak-ngguwak barangku. Wis nek ngene kowe ra usah urip karo aku!" Lalu 30 menit kemudian dia mengetuk pintu dan bilang : "Aku ngapuranen yo Nduk! Ojo mbok tinggal!" 5. Kisah cinta fiktif legendarisnya dengan Dr Aryo Kusumaningrat dari Leiden. Mungkin sungguh dia kesepian dan punya sindrom bunga desa (yang secara genetik menurun pada saya) 6. Satu untai kalung dan cincin emas made in Pasar Pucang. Yang belakangan saya tahu membuatnya 4 kali bolak-balik naik becak karena uangnya kurang. 7. Lagu-lagu Natal dalam komposisi harmonika tunggal di malam Natal. She was Mozart in this. 8. Kenes. Bedak dingin atau alas bedak viva kuning langsat yang dipakai seporadis, dan bibir super merah. Hitam peacock yang meninggalkan bercak di batas tumbuh rambut.
Ah! Saya sudah terlanjur rindu!
| |